Langsung ke konten utama

Postingan

Meong - Warning Of The People

Over Work

Bekerja dalam kepastian. Mengikis pikiran dan juga ingatan. Teringat akan tangisan temanku yang sekarang jauh. Hanya bisa mengingatnya dan tak akan pernah melupalannya. Karena semua orang yang kutemui, semua orang yang baik kepadaku, semua orang yang ada dihidupku. Penting. Sekarang terus bekerja. entah lelah atau sudah mencapai batas. Tapi, tanpa pekerjaan ini, tak akan ada artinya jika terselesaikan. Mencoba hanya untuk mencapai. Meski akhir yang tidak pasti itu pahit, bekerja sampai mencapai batas adalah sesuatu yang kumiliki saat ini.

On(e) Eye - Bagian 2

Mengapa mereka masih di sini? Dan kenapa pria tua malah membacakan hal yang sudah lama kulupakan? Bukankah aku sudah tidak dibutuhkan lagi oleh mereka, mereka sendiri yang mengusirku. * bukankah dia, oh ya, Bunda, kenapa dia menangis. Jangan katakan kalau dia menangisi diriku. Buat apa menangisi diriku yang bahkan memikirkan mereka sekalipun tidak. * suster membuka tirai jendela. Sinar mentari pagi langsung menyinari ruangan. Aku hanya bisa merasakan sedikit kehangatan mentari. "Altaf, kamu sudah sadar nak" suara pria tua. Dia baru menyadari kebangkitanku setelah dia menyelesaikan bacaannya. "syukurlah" bisiknya. Bunda mengelap air mata yang membanjiri wajahnya. "Altaf, kami semua mengkhawatirkanmu, syukurlah kamu sudah bangun" kata Bunda. "bohong!" suaraku tidak bisa keluar, hanya bisa lewat hati. Bunda memeluk diriku yang masih berbaring. Ingin sekali aku menghindar, tapi aku tidak bisa bergerak. Nyaris setengah lumpuh. Diriku masih terbalut.

On(e) Eye - Bagian 1

Kegelapan hanya membutakan mata kananku, menutupnya adalah jalan terbaik. Mata kiriku hanya diliputi kebencian, maka kubiarkan terbuka. Kegelapan sudah merenggut sebagian hidupku. Emosiku, sudah tidak peka. Entah siapa atau mengapa, semua sama. * Bangun dari tidur. Aneh, hanya mata kiriku yang bisa terbuka. Hal yang pertama kulihat adalah cahaya lampu kamar. Aku tidak bisa bergerak, di mana aku?. Aku mencoba mencari tahu. Ayah, Bunda. Mengapa mereka ada disampingku, tunggu dulu, ternyata aku berbaring diatas ranjang rumah sakit. Apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku mencoba menggerakan tanganku, argh, sakit sekali. Bagian kanan tubuhku di balut perban. Kepalaku juga diperban, menyisakan mata kiriku yang masih bisa melihat. Ah iya, aku ingat sekarang. Ledakan semburan api. Merenggut sebagian hidupku. Tapi, seharusnya seluruh tubuhku terbakar. Sepertinya aku melupakan sesuatu. Kulirik jam dinding. Sudah tengah malam, sebaiknya aku istirahat lagi.

Ujian Atau Cucian

Teringat kata-kata menggelitik sebelum ujian kenaikan kelas, hanya bisa tertawa dan terus bercanda ria. Sekarang, saat aku masih di tengah-tengah ujian, diriku seperti CUCIAN ketika dihadapkan kertas ujian. Kotor, dan tak layak untuk di pakai. Hanya bisa merangkai kata yang tak semestinya terurai ke atas kertas. Tapi setidaknya aku sudah berusaha agar tidak terlalu kotor seperti cucian yang direndam kelamaan, Bau dan sulit untuk di bersihkan.

Potret Hari Ini

Apa yang spesial dihari ini? Siapa yang tahu, selain diriku dan orang-orang yang mengenal diriku. Melihat EXP ku telah naik untuk ke level yang lebih tinggi. Hanya bisa melihat Potret diriku tahun ke tahun yang lalu, tak ada bedanya. Sama seperti langit, tidak berbeda dengan langit yang dulu aku lihat dengan sekarang. Dan Week End, diriku masih terkunci dalam ruang dimensi antara eksternal dan internal. Mengharapkan sesuatu yang sudah selayaknya.

Terkecoh

Awal pandangan pertama, terfikir akan sangat menarik. Tapi, seperti ada yang salah dengan sesuatu yang benar-benar salah. Mungkin hanya terlihat menarik jika dilihat, tapi sangat buruk jika mengenalnya. Mungkin itulah kehidupan. Banyak orang yang menyamar menjadi orang baik dengan segala attributnya, menjual janji-janji murahan yang tak pernah sekalipun ditepati, mengecoh kaum awam untuk diperas. Terpuruk hingga membusuk.