Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Dea. Th - Typography

Ketika kematian telah dekat. Rasa sakit dalam gengaman tangan terlihat indah. Darah-darah yang menetes perlahan jauh dari ujung jari-jari. Dalam ruang kamar remang-remang seorang gadis bermain-main dengan Pisau. Wajah bagagia tapi tidak terlalu puas. Pisau tumpul terus digesekkan dengan cepat. Satu-persatu jari itu putus dari tangan seorang pria tua.
Pria tua itu tergantung dengan kaki di ikat tak sadarkan diri. Wajah pucat kekurangan darah. Lantai putih ternodai merah darah kental. Perempuan itu menikmati kesengsaraan pria tua itu. Tetulis di nama dada “Fransi Manisto”. Pria tua yang menjadi korban Kesenangan dewi kematian.
“aku ingin melihat jantung yang asli” bisik Dea sang dewi kematian. “aku bosan jika hanya melihatnya di video” lanjutnya lagi. Dari pisau dapur tumpul, Dea berganti ke pisau cukur. Tepat di posisi jantung, Dea menekan pisau cukurnya hingga menembus dada Fransi. Dengan hati-hati Dea merobek area sekeliling jantung. Sebisa mungkin agar jantungnya tidak rusak.
Sekuat te…

Basah

Kelas yang tidak terlalu berisik. Suasana tenang hingga membuatku terlelap meringkuk di atas lantai dengan berbantalkan buku. Kusadari, rintik-rintik hujan sedang membasahi bumi. Aku khawatir. Pakaianku masih di jemuran. Tapi aku terlalu lelah untuk bangkit dan mengambil pakaian-pakaian itu. Kubiarkan tetesang langit membasahi pakaian yang telah kucuci di pagi hari. Kembali kulanjutkan, mimpiku yang sempat tertunda.

Pagi Mentari Rus(U)h

Sinar cahaya mentari belum terlihat. Ku awali pagi hari ini dengan menyibukkan diri dari pekerjaan rumahan. Seperti mencuci, menjemur, dan menyetrika. Belum ada yang spesial di hari ini. Ku harap cepat kedatangannya. Biar bagaimana, pun aku lelah menunggu.
Sinar mentari perlahan menjalar melewati celah-celah jendela yang terbuka sedikit. Segelas kopi luwak menghangati diriku yang sudah hangat karena baru saja menyelesaikan setrikaan.
Secangkir semangat untuk Indonesi. Bagaimana bisa aku lupa!. Ada sesuatu yang terlewatkan. Bau yang sangat menyengat ini. Bau kabel terbakar. Segera aku memutus semua yang berhubungan dengan arus listrik.

Pagi yang cukup sibuk. Beberapa coba ku perbaiki sendiri. Tapi hasilnya nihil. Sepertinya aku memang belum ahli untuk hal yang seperti ini. Yah sudahlah, lebih baik aku mencari bantuan.

Raga

Lama melangkah tak tentu arah. Mencari tujuan yang tak pasti. Detik yang tak tentu akan berakhir sia-sia jika langkah kaki tidak berhenti disana. Masihkah harus melangkah dalam kebutaan, sedangkan cahaya belum bersinar. Kecerobohan dalam menentukan berakhir dalam keraguan yang menyakitkan.
"hentikan langkahmu" kuteriaki ragaku yang tidak menuruti jiwaku. Percuma, raga yang telah depresi dipenuhi rasa frustasi hanya akan membuat kekecewaan diri. Dan aku hanya bisa terdiam meratapi kedua temanku melangkah kedepan sedangkan ragaku mundur kebelakang

Falco

Getaran dada membara. Seluruh penduduk langit mulai berdansa. Berdendang dengan penuh wibawa. Dalam gersang tandus sahara. Mencari titik air yang dirindu.
Mengapa diriku seakan terjebak antara langit dan bumi. Langit yang luas dipenuhi jutaan tetes embun awan atau bumi yang tandus dengan jutaan debu pasir yang menyelimuti oasis.
Aku butuh seseorang. Untuk membantuku terbang menuju langit. Jika tidak, aku akan terjatuh ke bumi yang gersang.
Tanganku seperti meraih pintu langit, tapi yang kurasa hanyalah hawa angin dingin yang menusuk. Sudah berapa lama aku melayang di antara keraguan langit dan bumi. Aku butuh jawaban, lebih tepatnya aku butuh bantuan. Seseorang yang bisa memberikanku dorongan untuk terus terbang ke angkasa luas.
Mentari pagi sudah terlihat lagi. Waktu yang terlewat seakan sia-sia karena diriku belum bergerak sedikit pun. Terjebak dan tak tahu harus bagaimana. Yang kulakukan sekarang hanyalah menunggu. Menuggu dirimu untuk menjawab pertanyaan yang sempat tertunda waktu…

My Soul, Your Beats

Terlelap dalam alunan nada. Senandung raga ikut bernyayi. Terdiam dan merasakan kehampaan nada yang terdengar menyayat hati. Teringat akan hal lalu, mencoba bangkit. Tapi tetap dalam keadaan berbaring.
Terdiam sejenak. Kembali melirik waktu. Tidak banyak yang tersisa. Hanya waktu yang terasa panjang. Sobakasu.
Akankah waktu yang kumiliki masih cukup untuk berbicara dengannya. Sedangkan diriku tidak dapat bangkit dari peristirahatan. Seakan ingin menangis, tapi aku mencoba tetap tegar. Biarpun aku tahu, ini adalah hari terakhir. Sempatkah aku menyatakan rasa kepada seseorang yang sebentar lagi menikah.
Ku tepis keraguanku. Ponsel yang tergeletak di atas meja kuraih. "Ass, bisa ngobrol bentar gak" pesan singkat, kukirimkan kepadanya. Lama ku menunggu jawaban. Ragu, diriku mencoba menghubunginya. Tidak di angkat. Apakah dia terlalu sibuk hingga dia tidak bisa menjawab telponku?.
Kusadari, seseorang yang penyakitan sepertiku memang tak pantas untuk memilikinya. Tapi, setidaknya …

Hanya Ingin Pulang

Dalam langkah. Aku meratapi kepergian diriku yang entah ke mana harus dituju. Seakan nestapa terus mengalir dalam seni rupa wajah dunia. Aku terperangkap dalam dunia animasi. Otaku. Itulah kebanyakan orang menyebut diriku dan orang-orang yang sama sepertiku. Apa salahnya jadi Otaku? Tidak ada! Yang salah hanya skala dan rasa yang terlalu berlebih. Menjadikannya cinta dunia dan lupa akan akhirat. Inilah kesalahan terbesar diriku. Lupa akan akhirat dan pergi menuju tempat jauh di dalam dunia. Aliran air yang mengalir lurus keluar dari keran Masjid. Aku ingin kembali lagi ke mana diriku sebenarnya berada. Diriku yang dulu pernah menjadi seorang santri disebuah pesantren modern.
Ini kali pertamanya aku melakukan ibadah di negeri yang jauh dari tempat kelahiranku. Di Negeri penuh animasi dan warna yang menjadikanku buta akan dunia yang sebenarnya. Dalam doaku. Aku berharap semoga bisa pulang dan merasakan sejuknya air gunung yang mengalir disungai-sungai besar. Tetesan air embun yang kurinduka…

Dea. Th

Seorang perempuan cantik menghampiriku. Tanpa kusadari, dia tersenyum. Senyuman itu terasa seperti membunuhku.
"Aku Dea" kata perempuan itu.
"A,, A,,, Altaf" kataku.
"Senang berkenalan denganmu" kata Dea.

Pandangan pertama ini, apakah aku sedang mengalami gejala yang sangat mematikan?

Sampah?

Apalah ini, Sampah?
Mungkin, karena selama ini hanya mengisi kekotoran eksistensi. Tak apalah, memang bukan keputusan yang baik, terima saja. Tiada guna hidup lama, jika hanya menyusahkan. Jika mati pilihan terbaik, mungkin sudah tiada. Tapi larangan agama mencegah. Bukankah layaknya barang atau peliharaan, jika tidak menurut, hukum saja. Tapi kenapa sekarang masih bisa melihat dan merasa, kenapa tidak di bunuh dari awal saja jika hanya merepotkan dan tanpa ketaatan, bisa mengurangi beban. Apakah kasih sayang atau iba, dan mungkin Prihatin atau Perhatian?

BAW (Black And White)

Nothing . . . . Just An Ordinary Person That Depressed From High Otaku Schooler,

After The Free Wi Fi

Hi Tam

Dalam gelapnya malam. seperti kebanyakan orang, memandangi langit berharap bulan mau memberikan sedikit cahaya untuk menunjukan arah. bulan purnama yang cukup indah, menjadi teman penunjuk jalan.
berjalan bersama teman yang tidak diharapkan dengan Es ditangan mereka.
Altaf, berjalan terus didepan dan Seno mengikuti dari belakang. entah kemana tujuan yang akan dicapai. mereka tak perduli.
"Ini alam bebas, bebaskan diri kita dan rasakan gelapnya malam" teriak Altaf dengan penuh semangat.
Seno hanya bisa mengangguk saja.

"Altaf, dimana kamu meletakan barang itu?" tanya Seno.
"Aku tak tahu, lebih baik kita jelajahi saja gunung ini hingga kita mendapatkan apa yang kita mau"
"Ya sudah, aku akan mengikutimu dari belakang"
"mau dari depan, atau atas, enggak masalah"

Mereka melanjutkan perjalanan mereka tanpa arah hanya untuk mencari barang yang tertinggal. melompat sana-sini. kadang nyebur di aliran air. namanya juga anak pramuka. akan terus berjuang s…

Monoton

Dalam kehampaan, Altaf hanya bisa memandangi dirinya yang selalu saja tersenyum kepada semua orang. kapankah senyuman itu dikhususkan untuk dirinya sendiri. sepertinya itu tidaklah mungkin. lagi pula, untuk alasan apa dia harus tersenyum kepada Altaf? Tidak Ada.
Dalam seumur hidupnya, Manusia adalah orang yang paling benci untuk di harapkan. hampir semua manusia yang Altaf temui Egois, dan hanya mementingkan kepentingan Pribadi.  Altaf, selama ini hanya hidup dalam kesendirian. entah kenapa, pikirannya selalu saja dipenuhi dengan pikiran kotor para manusia yang bejat, egois dan lainnya. dia muak dengan dunia ini. ingin rasanya dia bunuh diri, tapi, Prinsip agamanya masih terus ia pegang.  hanya ada kesulitan dalam hidupnya. berbaur dengan masyarakat.
dalam langkah kaki menuju rumah. dimana semua tipu daya dia pelajari. dimana dia diajari untuk berbohong secara tidak langsung. orang tuanya sendiri bahkan sering melakukan kebohongan. jadi, wajar saja jika Altaf mengikuti sifat itu.
sekali l…

Ashaabul Maimanah

Ntothing To Say, Thinking Further

The Broken Styrofoam – The Story Of The Madness

Ozy Milano berlari sekuat tenaga. Menghabiskan nyaris semua staminanya. Membakar jiwa yang sudah tidak utuh lagi. Pemandangan tadi. Ketika matahari terbenam. Saat Ozy ingin pergi menunaikan ibadah kewajibannya. Dua orang anak manusia duduk di atas batu besar kali. Mereka menunggu matahari terbenam. Duduk berduaan layaknya pasangan kekasih. Tepat saat matahari terbenam. Seorang lelaki yang duduk disampingnya mencium perempuan di sebelahnya. Tepat di bibirnya. Pemandangan yang menusuk mata. Tembus hingga ke lubuk hati. Ozy sampai didepan rumahya. Membuang semua pandangan tadi. Membuang rasa sakit dan pedih yang di alami. Ozy masuk kekamarnya. Banyak tertempel Steorofom di kamarnya. Masing-masing steorofom memiliki kisahnya masing-masing. Khususnya yang berwarna merah hati. Disitu tertempel foto perempuan yang amat Ozy cintai. Bruk..

Satu pukulan tepat mengenai wajah perempuan manis yang ada di dalam foto. Brukk. Ozy mengulangi pukulannya. Lagi. Dan lagi. Darah bercucuran ditangannya. Merah.…

Meong - Warning Of The People

Over Work

Bekerja dalam kepastian. Mengikis pikiran dan juga ingatan. Teringat akan tangisan temanku yang sekarang jauh. Hanya bisa mengingatnya dan tak akan pernah melupalannya. Karena semua orang yang kutemui, semua orang yang baik kepadaku, semua orang yang ada dihidupku. Penting.
Sekarang terus bekerja. entah lelah atau sudah mencapai batas. Tapi, tanpa pekerjaan ini, tak akan ada artinya jika terselesaikan.
Mencoba hanya untuk mencapai. Meski akhir yang tidak pasti itu pahit, bekerja sampai mencapai batas adalah sesuatu yang kumiliki saat ini.

On(e) Eye - Bagian 2

Mengapa mereka masih di sini?
Dan kenapa pria tua malah membacakan hal yang sudah lama kulupakan?
Bukankah aku sudah tidak dibutuhkan lagi oleh mereka, mereka sendiri yang mengusirku.
*
bukankah dia, oh ya, Bunda, kenapa dia menangis. Jangan katakan kalau dia menangisi diriku. Buat apa menangisi diriku yang bahkan memikirkan mereka sekalipun tidak.
*
suster membuka tirai jendela. Sinar mentari pagi langsung menyinari ruangan. Aku hanya bisa merasakan sedikit kehangatan mentari.
"Altaf, kamu sudah sadar nak" suara pria tua. Dia baru menyadari kebangkitanku setelah dia menyelesaikan bacaannya. "syukurlah" bisiknya.
Bunda mengelap air mata yang membanjiri wajahnya.
"Altaf, kami semua mengkhawatirkanmu, syukurlah kamu sudah bangun" kata Bunda.
"bohong!" suaraku tidak bisa keluar, hanya bisa lewat hati.
Bunda memeluk diriku yang masih berbaring. Ingin sekali aku menghindar, tapi aku tidak bisa bergerak. Nyaris setengah lumpuh. Diriku masih terbalut…

On(e) Eye - Bagian 1

Kegelapan hanya membutakan mata kananku, menutupnya adalah jalan terbaik. Mata kiriku hanya diliputi kebencian, maka kubiarkan terbuka. Kegelapan sudah merenggut sebagian hidupku. Emosiku, sudah tidak peka.
Entah siapa atau mengapa, semua sama.
*
Bangun dari tidur. Aneh, hanya mata kiriku yang bisa terbuka. Hal yang pertama kulihat adalah cahaya lampu kamar. Aku tidak bisa bergerak, di mana aku?.
Aku mencoba mencari tahu.
Ayah, Bunda. Mengapa mereka ada disampingku, tunggu dulu, ternyata aku berbaring diatas ranjang rumah sakit. Apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku mencoba menggerakan tanganku, argh, sakit sekali. Bagian kanan tubuhku di balut perban. Kepalaku juga diperban, menyisakan mata kiriku yang masih bisa melihat.
Ah iya, aku ingat sekarang. Ledakan semburan api. Merenggut sebagian hidupku. Tapi, seharusnya seluruh tubuhku terbakar. Sepertinya aku melupakan sesuatu. Kulirik jam dinding. Sudah tengah malam, sebaiknya aku istirahat lagi.

Ujian Atau Cucian

Teringat kata-kata menggelitik sebelum ujian kenaikan kelas, hanya bisa tertawa dan terus bercanda ria.

Sekarang, saat aku masih di tengah-tengah ujian, diriku seperti CUCIAN ketika dihadapkan kertas ujian. Kotor, dan tak layak untuk di pakai. Hanya bisa merangkai kata yang tak semestinya terurai ke atas kertas. Tapi setidaknya aku sudah berusaha agar tidak terlalu kotor seperti cucian yang direndam kelamaan, Bau dan sulit untuk di bersihkan.

Potret Hari Ini

Apa yang spesial dihari ini?

Siapa yang tahu, selain diriku dan orang-orang yang mengenal diriku.

Melihat EXP ku telah naik untuk ke level yang lebih tinggi.

Hanya bisa melihat Potret diriku tahun ke tahun yang lalu, tak ada bedanya. Sama seperti langit, tidak berbeda dengan langit yang dulu aku lihat dengan sekarang.

Dan Week End, diriku masih terkunci dalam ruang dimensi antara eksternal dan internal. Mengharapkan sesuatu yang sudah selayaknya.

Terkecoh

Awal pandangan pertama, terfikir akan sangat menarik. Tapi, seperti ada yang salah dengan sesuatu yang benar-benar salah. Mungkin hanya terlihat menarik jika dilihat, tapi sangat buruk jika mengenalnya. Mungkin itulah kehidupan. Banyak orang yang menyamar menjadi orang baik dengan segala attributnya, menjual janji-janji murahan yang tak pernah sekalipun ditepati, mengecoh kaum awam untuk diperas. Terpuruk hingga membusuk.

30 Menit

Mata tanpa rasa kantuk. Menjalani dunia malam setiap harinya. Mencari ini dan itu. Tersisa 30 Menit untuk menyambut pagi ditemani kopi. Walau tanpa teman. Laptopku terus menyala.

Siap-Siap Buat Ujian.

Huh, Gila. Ujian Kenaikan kelas di Pondokku sampai Satu Bulan. Mmm, sekitar 30 pelajaran harus bisa Aku Kuasai. Semoga Naik sampai kelas Enam. Persiapkan dari sekarang buat ujian. Apalagi ujiannya Esai semua.
3 Juni 2013. Harus sungguh-sungguh.

Penyesalan

Kereta api ekonomi jurusan Bogor - Jakarta - Yoyakarta. Mereka berempat duduk berhadap-hadapan. Ahz duduk disebelah Vhanz, dan Natsu duduk di sebelah Juno. Kembali pulang ke Jogja untuk menyelesaikan kuliah semester akhir.
Lelah, letih, lesu, lunglai dan lemah. Mungkin itu penyakit 5L yang kini mereka rasakan. Semuanya mengantuk dan ingin cepat-cepat istirahat. Vhanz, Juno dan Natsu sudah menghempaskan diri mereka ke alam mimpi. Mereka tidur dengan posisi duduk.
Ahz pergi meninggalkan mereka yang tertidur kecapean. “Maafkan aku teman-temanku” batin Ahz. Semua barang-barangnya lengkap dia bawa. Keluar dari kereta yang akan berangakat.
Vhanz terjatuh. Disampingnya tidak ada Ahz. “kemana dia?”. Vhanz melihat keluar jendela. Ahz berdiri mematung. Ahz menoleh ke arah Vhanz. Ahz melambaikan tangan. Vhanz buru-buru keluar dari kereta. Tapi nampaknya kereta sudah melaju. Terlalu cepat. Vhanz takut untuk melompat. “Ahz” vhanz berteriak sekuat tenaga. Tapi yang tersisa hanya bayangan Ahz.
Ahz langs…

Reuni

“Juno, kamu dapat undangan IKAPMI enggak?” tanya Ahz.
“ Reuni IKAPMI, iya aku juga dapat, emang kamu enggak dapat?”
“Dapat, pengen memastikan aja kalau kamu kebagian”
Natsu keluar dari kamar mandi. Tubuhnya masih dibalut hanya dengan sebuah handuk.
“Reuni IKAPMI ya, kapan nih acaranya?” Tanya Natsu
“tanggal 20 maret 2017”
“wah pas banget, hari minggu, gimana kalau kita berangkatnya dari hari sabtu. Kayak waktu dulu” Juno memberikan saran
“Boleh tuh, eh kalian buruan mandi. Jumatan” natsu mencipratkan air kepada Ahz dan Juga Juno.
Mereka bertiga bersiap-siap untuk menunaikan ibadah shalat di masjid Kota Gedhe. Kebetulan jarak antara rumah keluarga Juno yang Ahz dan Natsu jadikan tempat Kost tidak jauh dari Masjid. Jadi mereka cukup berjalan kaki saja.

Hanya satu orang yang tidak pergi untuk shalat jumat. Karena dia memang perempuan. Ditambah lagi dia kristen. Satu-satunya perempuan yang ngekost di rumah keluarga Juno. Kebetulan rumah keluarga Juno sangatlah besar. Bagian kanan ada 4 ruang kama…